Pesantren Ramadan Lapas Narkotika Karang Intan Hadirkan Beragam Pelatihan Ibadah untuk Bekali Warga Binaan

  • Bagikan

Karang Intan, ATENSI PUBLIK,-

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Karang Intan kembali menggelar Pesantren Ramadan sebagai bagian dari pembinaan keagamaan bagi warga binaan.

Program ini dirancang untuk membekali mereka dengan pemahaman agama yang lebih mendalam, mencakup praktik ibadah harian hingga penyelenggaraan jenazah dan manasik haji.

Kepala Lapas Narkotika Karang Intan, Edi Mulyono, menyampaikan bahwa Pesantren Ramadan bertujuan meningkatkan kualitas ibadah warga binaan, sehingga mereka dapat menerapkan ilmu yang diperoleh baik selama menjalani masa pembinaan maupun setelah kembali ke masyarakat.

“Kegiatan ini tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga praktik langsung agar warga binaan benar-benar memahami dan bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Edi.

Kegiatan dimulai pada hari Senin dengan tashih Surah Al-Fatihah, di mana warga binaan dibimbing untuk memperbaiki bacaan Al-Fatihah sesuai tajwid. Setelah itu, mereka mempelajari thaharah (istinja dan wudhu) sebagai syarat sahnya ibadah. Selanjutnya, pembelajaran dilanjutkan dengan azan, iqamat, dan sholat dalam kondisi normal, yang mengajarkan tata cara melaksanakan sholat dengan benar.

Pada hari Selasa, warga binaan kembali memperbaiki bacaan Al-Fatihah dalam sesi tashih Surah Al-Fatihah dan mempelajari tayamum, sebagai alternatif bersuci dalam keadaan darurat. Kemudian, mereka mendapatkan materi mengenai sholat dalam keadaan sakit, yang mengajarkan tata cara sholat bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik.

Pembelajaran berlanjut dengan materi penyelenggaraan jenazah, yang diberikan dalam tiga sesi bertahap. Warga binaan diajarkan tata cara memandikan, mengafani, menshalatkan, dan menguburkan jenazah sesuai tuntunan syariat Islam. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam mengenai fardhu kifayah, sehingga mereka dapat berkontribusi dalam masyarakat setelah bebas.

Puncak kegiatan adalah praktik manasik haji dan umroh, di mana warga binaan diberikan simulasi mengenai tata cara pelaksanaan ibadah haji. Mereka menjalani tahapan mulai dari niat ihram, wukuf di Arafah, tawaf, sa’i, hingga tahallul. Simulasi ini dilakukan agar warga binaan memahami tata cara ibadah haji dengan baik.

Salah satu santri, berinisial AM, mengungkapkan rasa syukur atas program ini.

“Alhamdulillah, saya mendapatkan banyak ilmu baru, terutama tentang penyelenggaraan jenazah dan manasik haji. Semoga ini menjadi bekal ibadah saya di masa depan,” ujarnya. Dengan adanya Pesantren Ramadan ini, Lapas Narkotika Karang Intan berharap warga binaan dapat meningkatkan pemahaman agama mereka dan menjadi pribadi yang lebih baik setelah kembali ke masyarakat. (sbl)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *