Paradoks Dunia Media: Ketika Si Hedon Menipu Si Idealis

  • Bagikan

Pangkalpinang atensipublik.com — Tugas utama wartawan adalah mengumpulkan, mengolah, dan menyebarkan informasi yang akurat dan relevan kepada publik melalui berbagai media. Fungsi wartawan adalah sebagai penyedia informasi untuk memenuhi hak masyarakat, mendorong terwujudnya demokrasi dan supremasi hukum, serta mengontrol kebijakan publik.

Nah, dengan adagium seperti itu, disamping fungsi-fungsi lainnya seperti to educate to inform dan to entertain tadi, wartawan masih juga dibedakan antara kubu idealis dan kubu oportunis hedon.

Meski begitu, dalam fakta lainnya, banyak juga teman media yang ada di praktek kesehariannya malahan mendegradasi dirinya ke level pesuruh oligarki serta berujung jadi anjing peliharaan sebagai suatu keniscayaan. Mereka-mereka ini menyembah kekuasaan, takluk oleh gepokan modal. Dan pastinya jauh dari intelektual. Sebagian besar lainnya malah sama sekali tak mampu menulis artikel. Ironis.

Sejarah mencatat, seorang Profesor Salim said yang meniti karirnya dari wartawan kampus, suratkabar, peneliti, doktor ilmu politik, sejarawan sampai akhirnya diakui sebagai Pakar atau pengamat militer paling mumpuni dengan gelar akademis Profesor.

Sebuah contoh paling tak terbantahkan soal dedikasi, integritas dan kekayaan intelektual bisa bersatu dalam DNA seorang wartawan.

Walau di sisi lainnya, dunia gelap rekan wartawan juga dicatat oleh tinta sejarah. Mirisnya, sebagai flamboyan oportunis berbekal wartawan.

Ada yang mendadak sukses jadi menteri dua orang Presiden -walau namanya ada dalam fakta sidang judol- Ada yang tetiba direkrut oleh intelijen asing sebagai agen spionase. Atau ada juga yang merunduk-runduk dengan kekuasaan setelah sebelumnya publik mengenalnya sebagai penulis dengan tinta tajam.

Namun, memang semua itu pilihan. Dalam scope yang lebih kecil lagi, bisa disebutkan dengan gamblang adanya oknum-oknum yang tadinya berdiri di jajaran idealisme. Akan tetapi waktu, kebutuhan, nafsu dan ambisi pribadi mampu membawanya jatuh. Iya terperosok kedalam jurang kehinaan.

Kelak akan dikenal sebagai seorang mantan terhormat, yang berujung hina dina setelah rela menggadaikan idealismenya dengan seonggok materi, bernama uang. Isi kepalanya diukur oleh oligarki dengan angka. Alangkah bodohnya. Seluruh kedigjayaan yang pernah ditorehkan olehnya mendadak sirna.

Meski begitu, diri pribadi juga sempat alami masa-masa turbulensi seperti tadi. Masa dimana kebutuhan di dalam rumah tangga jauh lebih keras terdengar ketimbang pekikan idealisme itu sendiri. Bukankah setiap kita keluar rumah selalu ada doa penuh harap, senyuman tulus dari istri kita, direkatkan lagi dengan rengekan yang wajib dipenuhi dari buah hati kita?

Sebagai manusia normal tentu kita akan berupaya dengan segenap ilmu dan skill yang kita punya untuk sekedar memenuhi janji atau request tadi. Tapi, kadangkala disinilah masalahnya.

Sifat Hedon Bermula Dari Ambrolnya Pondasi Iman, diakhiri oleh Matinya Idealisme

Awalnya si bapak mungkin hanya ingin membuat keluarganya senang, bahagia dan dalam naungan kecukupan. Dengan segala daya upaya, berusaha lah si bapak tadi menjemput rezeki yang sudah dijamin oleh Allah SWT.

Tetapi perlu dicamkan disini, rezeki itu sesungguhnya bukan hanya berupa nominal rupiah atau uang saja. Dengan kita sehat, keluarga tidak kelaparan, anak-anak kita sekolah dan anggota keluarga kita semuanya beribadah. Itu sudah mendapatkan rezeki berlimpah namanya. Harus disyukuri sebenarnya. Mudah diucapkan, saya juga masih belajar menerapkan dalam kehidupan.

Nah, si bapak tadi terus berjalan, sampai pada suatu titik dimana dirinya diuji dengan kalimat “Terkenal” imbas dari ketekunannya dalam bekerja di bidangnya. Kita ambil contoh, bapak tadi seorang wartawan yang tinggal di sebuah provinsi yang baru saja terbentuk.

Ketika ujian tadi berbentuk sebuah kesakitan, nestapa, susah, melarat atau miskin lah gampangnya. Banyak manusia akan selalu resistance dan memiliki daya tahan luar biasa. Serta mampu jadikan kita sebagai pribadi tangguh sekeras karang di laut.

Sebaliknya, jika ujian tadi berbentuk kesenangan, kemudahan, banyak uang, dipuja banyak orang karena karya-karya kita, diperlakukan bagai raja, bahkan banyak yang menjadikan kita sebagai idola. Sudah banyak contoh di sekeliling kita, banyak yang akhirnya tergelincir, terjerembab, untuk kemudian cuma penyesalan yang tersisa.

Karena bapak tadi, kita lanjut ya, semakin hari semakin piawai saja dalam menggambarkan situasi daerah pada para pemangku kepimpinan, kendatipun dibumbui aksi tipu-tipu mengcopas artikel sejawat. Dan perlahan, “hasil karyanya” dijadikan sebagai acuan bagi daerah tadi. Aksi heroiknya membela pedagang kecil, lemah dan dalam posisi akan kalah. Melambungkan namanya hingga ke ubun-ubun hedonisme. Dekat dengan pejabat beragam institusi, main pucuk istilahnya.

Ngopi sorenya bukan lagi di tempat ngopi pengkolan yang panas dan dipenuhi tukang catut. Makan malamnya tidak sekedar nasi ditambah indomie supaya cepat kenyang. Semuanya sontak berubah, setelah salah satu “naga” atau kelompok oligarki sudi membeli harga dirinya. Dengan materi tentunya. Simbiosis mutualisme. Klop.

Si bapak yang memikul beban berat syahwat istri dan anaknya, seperti menemukan tempat untuk menukar beban tadi dengan ucapan pujian dari ratu rumahnya. Panggilan sayang dari anaknya. Atau tak sengaja mendengar mertuanya kerap banggakan dirinya yang sekarang telah dilengkapi dengan rumah mungil di komplek ternama, mobil keluaran showroom di kotanya yang tiap hari selalu mengkilat. Di gadget si bapak tadi yang membuat iri rekan sejawatnya, karena berharga digit sembilan.

Waktu terus berjalan, si bapak tadi makin lupa diri. Idealisme yang tadinya sebagai senjata mematikan untuk tikus-tikus pencoleng uang negara. Pelan-pelan makin hilang ditelan sifat tamak dan serakah yang mulai mengakar di kepalanya. Beberapa teman dekatnya mulai menjilati kesuksesan si bapak. Mereka mendorong dirinya agar maju sebagai kontestuen dalam pemilihan sebuah kelompok bergengsi milik penulis.

Enggak ditawari saja sudah tergoda, apalagi digadang-gadang saban pagi dan sore? Kelompoknya makin senang, karena terjamin makan, rokok dan transport-nya. Si bapak makin haus oleh pujian para penjilat. Sampai suatu ketika, dirinya -atas takdir Allah SWT memang benar terpilih salah satu bedinde pers di negeri tadi, si bapak ikut terjerembab dalam kubangan skema mega korupsi. Yang dikorupsi bukan lagi angka ratusan ribu atau maksimal belasan juta seperti sebelumnya, tatkala menyantap jatah kawan seiring. Namun sudah mencapai angka miliaran rupiah. Yang kalau hasil korupsi berjamaah tadi dibelikan rokok ketengan beraroma barongsai, si bapak diyakini akan mampu mengasapi satu kelurahan di dekat rumahnya.

Istri menjerit, anak serta sanak saudara melengkingkan ratap tangis iba. Saat si bapak berjalan keluar dari gedung aparat hukum dengan tangan terborgol juga memakai rompi berwarna. Permainannya terbongkar, pat gulipat kotor dirinya bersama tokoh lokal ternama terkuak sudah. Sudah jatuh tertimpa ember cat pula. Apes. Untung tak dapat diraih malu jadi hiasan muka. Nama besar si bapak yang sudi diukir berbelas tahun lamanya seolah sirna hanya dalam hitungan jam saja. Maksud hati ingin membahagiakan keluarga tapi setan tamak serakah jadi temannya. Sehingga teman seprofesi ikut kena getahnya. Miris memang jika melihat salah satu unsur jurnalistik ikut bermain dalam pusaran kongkalikong korupsi.

Padahal, jika saja idealismenya tak digadaikan. Andaikan mau jujur pada arti kata wartawan (pembawa informasi berita) secara sederhana, mungkin nasib si bapak apes tadi masih bisa terselamatkan dengan jalan kreatifitas ekonomi yang lain. Ketimbang nama juga foto dirinya memakai borgol diapit petugas jadi hiasan headline media teman seperjuangannya. Apa boleh buat nasi telah menjadi bubur alias sukar untuk dikembalikan lagi situasinya seperti semula.

Kondisi seperti ini banyak menimpa kalangan borjuis hedon yang menyamar jadi pewarta. Cirinya mudah dikenali, selalu mengedepankan penampilan ketimbang isi tulisan, memuja kemewahan alih-alih mengupgrade pengetahuan. Belum lagi sewaktu membahas karakter culas diri si hedon tadi. Apa saja yang bisa jadi uang tentu akan dilakoni sepenuh hati. Menipu dan merekayasa uang 86 berita 404 jadi makanan sehari-hari. Memang tabiatnya (mungkin) sudah rusak ketika ikut menceburkan diri dalam jagat jurnalistik. Sehingga, ibaratnya seperti menepuk air di gelas kopi, yang tidak tahu persoalan kena imbasnya.

Dalam beberapa kasus viral di tanah air seperti ikut terseretnya oknum media dalam pusaran kasus korupsi timah, sesungguhnya justru menunjukkan betapa rapuhnya idealisme seorang oknum wartawan tatkala dihadapkan pada pilihan menjadi kritikus atau menjadi buzzer berbayar. Kalau pilihan pertama yang diemban, niscaya si empunya profesi tersebut akan sering menjalani puasa hawa nafsu diluar bulan ramadhan. Tapi sebaliknya kalau pilihan buzzer berbayar yang di-iyakan, maka gemah ripah loh jinawi tentu menyirami kehidupan keluarganya. Istri minta anu, udah aku transfer ya jawab si suami. Anak merengek barang, sekejap saja rengekan tadi berubah jadi deret panjang puja-puji hebatnya seorang ayah mencari nafkah.

Saat ini, negara menyatakan sedang perang terhadap korupsi. Yang pelakunya adalah -salah satu unsurnya- oligarki. Mereka punya uang punya kuasa. Mampu membeli media mana saja yang berupaya menjadi Daphne Caruana Galizia, -jurnalis Malta yang dibunuh setelah menyelidiki korupsi pejabat tinggi atau Carl Bernstein yang, bersama Bob Woodward, meliput skandal Watergate yang berujung pada pengunduran diri Presiden Nixon- yang baru. Dan terakhir, percayalah bahwa yang Bathil itu takkan merasa nyaman ketika yang Haq itu berpijar. Jadi, sudah jelas bahwa tugas media adalah sebagai mata dan telinga milik publik. Gunakanlah dengan bijak jangan dicampuradukkan dengan yang lainnya. Opini itu bebas dan fakta itu suci. Sekian. (***)

Oleh Lukman Hakim
Wartawan tinggal di Pangkalpinang

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *