Jika Perluasan Tambang dan Sawit Makin Gacor, Ketahanan Pangan di Babel Jadi Taruhan

  • Bagikan

Kuberdiri di sebuah pulau yang kaya | Tapi rakyatnya banyak jadi penonton semata | Ku tersandung oleh perut cukong gemuk dan rakus | Yang disuapi oleh pejabat malas berkarakter tikus

Sebuah Essai

Pangkalpinang atensipublik.com – Maraknya berita menyoal penangkapan, penggerebekan, penyitaan dan sejenisnya para pelaku tambang ilegal, juga kebun sawit ilegal, tentu menerbitkan sebuah hipotesis sederhana di benak para pemikir.

Jika konstelasi demikian terus menerus terjadi, arti sebaliknya adalah luasan ‘mesin uang’ para cukong -baik sawit dan timah- secara tersirat semakin cetar membahana saja.

Sementara itu, ketahanan pangan warga keseluruhan lambat laun dan tidak terasa makin menyempit terdesak, juga terancam punah.

Dalam laporannya, situs berita ekologis mongabay menyebutkan, kepulauan Bangka Belitung yang berjumlah sekitar 1,459 juta jiwa terancam mengalami krisis pangan apabila krisis iklim mencapai puncaknya.

Ketergantungan pada pasokan pangan dari luar daerah, terutama beras, belum mampu ditekan, sementara basis ekologis yang selama ini menopang kedaulatan pangan terus menyusut akibat ekspansi industri ekstraktif.

Data di bulan Agustus 2025 kemarin, Provinsi ini memiliki stok beras sebesar 5.240.500 kilogram. Dengan begitu, jika 5.240,5 ton beras tadi dibagi dengan 1,4 juta jiwa setara dengan kira-kira 3,74 kilogram beras per jiwa. Dengan kata lain -dalam masa normal- kondisi ini cukup aman.

Namun dengan kondisi agregasi para pelaku bisnis ilegal yang kian agresif, semestinya mampu menghalau sikap optimisme pejabat terkait. Karena taruhannya adalah membesarnya keran impor, ketimbang berusaha untuk berdikari mencetak petak sawah baru.

Kemudian yang lainnya adalah, pada komunitas adat seperti Suku Mapur, produksi padi turun drastis karena lahan pertanian semakin sempit, tertutup perkebunan monokultur dan penambangan timah yang merusak tanah serta menghilangkan ruang hidup masyarakat.

Beberapa laporan resmi menyebut terkait produktivitas panen padi di desa Rias kabupaten Bangka Selatan dikatakan bisa mencapai 4 ton/hektare (GKP) hingga 6 ton/hektare (GKP).

“Pada April 2025, Bulog Cabang Bangka menyerap sekitar 500 ton Gabah Kering Panen (GKP) dari petani Desa Rias,” demikian laporan tadi menyebut.

Meski begitu, untuk memastikan ketahanan dan kedaulatan pangan di masa depan, diperlukan upaya yang berjalan bersamaan: menghentikan seluruh perluasan perkebunan sawit dan pertambangan timah, memulihkan lahan-lahan pertanian yang telah rusak, serta menghidupkan kembali basis ekologis seperti hutan, sungai, dan laut.

Tanpa langkah-langkah ini, Bangka Belitung akan semakin bergantung pada impor dan makin rentan menghadapi krisis pangan di era iklim yang kian tidak menentu.

Banyak faktor yang harus dibenahi oleh para pejabat OPD yang selama ini terkesan terjebak dalam zona nyaman. Yang paling utama salah satunya adalah, menambah bendungan irigrasi yang berfungsi setidaknya untuk dua hal strategis. Selain dari dua yang sudah ada, yakni bendungan Metukul di Bangka Selatan dan bendungan Pice Besar di Belitung Timur.

Pertama, membangun bendungan di utara pulau bangka sebagai corong bagi alur air yang terhambat dikarenakan proses sedimentasi pada sungai-sungai yang disumbangkan oleh ratusan tambang ilegal serta perluasan kebun sawit.

Kedua, idealnya kotamadya Pangkalpinang pun memiliki sistem irigrasi alur air yang modern dan tertata dengan baik. Hal ini akan jadi jawaban dari bentuk kota Pangkalpinang, yang para pengamat ibaratkan seperti cekungan atau bentuk mangkuk.

Sebagai saran, jika hal tadi sepakat dijalankan maka APBD -seminimnya satu kotamadya dan dua kabupaten- dapat lebih berguna lagi bagi rakyat, ketimbang perjalanan dinas para pejabat yang hasilnya tidak jelas.(***)

 

Pangkalpinang 10 Desember 2025

Oleh : Lukman Hakim
sebagian merupakan artikel di sumber

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *