Tanah air Indonesia
Tanah-nya longsor akibat hutan dibabat. Air-nya jadi bencana karena sungai meluap dan anehnya mereka tetap berpesta ~ anonymous
Pangkalpinang atensipublik.com – Beberapa waktu belakangan ini, banyak peristiwa bencana alam yang melanda tanah air. Bentuknya beragam, mulai dari tanah longsor, hujan dengan intensitas tinggi, angin puting beliung hingga yang paling mematikan adalah banjir bandang, Selasa 30 Desember 2025.
Sementara itu, mitigasi bencana dari otoritas berwenang dinilai oleh masyarakat jauh dari kata mumpuni. Bahkan sekedar memadai saja nampaknya jauh panggang dari api. Belum lagi akrobat politik memuakkan dari para jajaran menteri.
Aceh, Sumut dan Sumbar eskalasi bencananya berdasarkan data terakhir, mampu mengundang badan berwenang di UN untuk bersidang serta memutuskan status bencana tersebut. Yang sudah menyebabkan jatuhnya korban hingga 1140-an jiwa, 163 warga masih hilang, dan 399.172 mengungsi di tanah kelahirannya sendiri. A Massive Disaster ini telah sukses mendapatkan label bencana horor akibat rakusnya korporasi mengeruk kekayaan di tanah air.
Selain itu, pihak BMKG sendiri telah berkali-kali merilis peringatan dini pada masyarakat. Baik berupa himbauan, sajian prakiraan cuaca hingga mengenalkan gejala turbulensi cuaca ekstrem. Dan salah satunya adalah soal badai siklon tropis.
Untuk itu, redaksi memilihkan sebuah tajuk berita berlatar belakang siklus cuaca temporatif tersebut. Yang didalamnya terselip secuil mitigasi bencana bagi para warga jikalau bencana angin atau banjir menerjang wilayahnya.
Dirangkum dari berbagai sumber, disebutkan bahwa siklon tropis merupakan badai dengan kekuatan yang besar. Radius rata-rata siklon tropis mencapai 150 hingga 200 km. Siklon tropis terbentuk di atas lautan luas yang umumnya mempunyai suhu permukaan air laut hangat, lebih dari 26.5 °C. Angin kencang yang berputar di dekat pusatnya mempunyai kecepatan angin lebih dari 63 km/jam.
“Kadangkala di pusat siklon tropis terbentuk suatu wilayah dengan kecepatan angin relatif rendah dan tanpa awan yang disebut dengan mata siklon. Diameter mata siklon bervariasi mulai dari 10 hingga 100 km. Mata siklon ini dikelilingi dengan dinding mata, yaitu wilayah berbentuk cincin yang dapat mencapai ketebalan 16 km, yang merupakan wilayah dimana terdapat kecepatan angin tertinggi dan curah hujan terbesar,” demikian BMKG merilis keterangannya.
Di Provinsi Kep Bangka Belitung sendiri, beberapa kejadian sporadis angin kencang dengan sebutan puting beliung pernah terjadi. Di pantai pusuk, permis hingga pangkalbalam netizen pernah merekam kejadian angin yang berpilin bentuk raksasa tadi menimbulkan rasa jeri bagi warga yang menyaksikan.
“Tindakan yang perlu dilakukan oleh warga sebelum kejadian bisa berupa memperkuat rumah, memangkas pohon tinggi di sekitar rumah serta menyiapkan tas siaga berisikan dokumen-dokumen penting,” sebut situs BPBD.
Yang terpenting adalah ketika angin dengan kecepatan 60-150 km/jam tersebut sudah menerjang pemukiman warga. Maka mereka diharapkan agar masuk berlindung ke dalam rumah. Utamakan selamatkan anak kecil dan orangtua.
“Kemudian mematikan listrik, menjauh dari jendela, mencari tempat paling aman seperti di bawah meja, tiarap jika di luar area rumah seperti teras dan garasi), dan segera melaporkan kerusakan pada pihak yang berwenang,” pungkas kutipan BPBD.
Bukan cuma angin puting beliung, maka tahapan mitigasi bencana yang urgen dilakukan tatkala banjir menerjang salah satunya adalah segera menuju ke tempat yang lebih tinggi , baik itu lantai teratas sebuah bangunan, atap rumah anda, atau bukit tertinggi di hutan.
“Jika Anda mengungsi dari rumah, Anda harus mencoba mematikan aliran listrik dan menempatkan barang-barang berharga di lantai tertinggi. Prioritas utamanya adalah berupa dokumen penting, barang berharga -jika sempat- dan alat komunikasi,” pungkas kutipan. (LH/other source)












