Pantas Banjir Jadi Headline Awal Tahun, Hampir 70 persen Hutan di Babel Dalam Kondisi Kritis

  • Bagikan
Pic source : global forest watch

Pulau seluas 1,6 juta kilometer diperebutkan oleh banyak tangan korporasi

•Ruang hidup 1,4 juta rakyat Babel terancam bencana ekologis serius

Pangkalpinang atensipublik.com – Banjir besar yang melanda bagian tengah pulau Bangka -atau tepatnya di kawasan Lubuk Besar kabupaten Bangka Tengah- tidak serta merta disebabkan oleh hujan semata. Ada faktor sangat krusial yang jadi aktor hitam pemantik energi dorong bagi derasnya air hujan yang tak mampu ditampung oleh badan sungai, Senin 12 Januari 2026.

Berdasarkan Dokumen Informasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Kep Bangka Belitung Tahun 2022, yang diperoleh kamar redaksi. Disebutkan fakta-fakta mencengangkan tentang makin ‘botaknya’ tutupan kawasan hutan yang dimiliki Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai bagian tengah dari “Tin Mayor South East Asian Tin Belt” dengan tipe granit main range ini.

Data lahan kritis Babel dalam peta

Luasan lahan kritis di wilayah ini mencapai 167.065 hektar. Atau sekitar 70 persen lahan, terdiri dari : lahan potensial kritis seluas 798.135 ha atau setara dengan 47,7%; agak kritis seluas 393.379 hektar atau setara dengan 23,5%; kritis seluas 20.438 hektar atau sekitar 1,2%, disebabkan aktivitas penambangan timah. Sementara dari 1,6 juta hektar luas daratan Bangka Belitung, tersisa 204.974 hektar tutupan hutan.

Tangkapan layar dokumen pdf DLHK Babel

“Serta lahan sangat kritis dengan luasan 248 hektar. Dalam rentang tahun 2020 hingga 2021 luasan lahan pertambangan mengalami kenaikan dari 155.203 hektare menjadi 156.325 hektare,” demikian informasi yang disusun awak media melalui Dokumen pdf milik Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan [DLHK] Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Tak cuma itu, berdasarkan fungsi kawasannya, Bangka Belitung memiliki luas kawasan hutan sekitar 657 ribu hektar, dan yang terluas adalah kawasan hutan produksi [HP], sekitar 435.892,06 hektar.

Menurut Walhi Kepulauan Bangka Belitung, lebih dari setengah kawasan HP tersebut atau sekitar 256.290 hektar, dikuasai perusahaan HTI. Sementara perkebunan sawit, dikutip dari buku statistik perkebunan Indonesia, luasnya mencapai 250.376 hektar. Sekitar 79.044 hektar, merupakan perkebunan rakyat dan 171.332 hektar perkebunan swasta.

“Sejauh ini, adanya konsesi HTI dan perkebunan sawit di Bangka Belitung sejalan dengan munculnya konflik dan kerusakan lingkungan,” kata Ahmad Subhan Hafiz, Direktur Walhi Kepulauan Bangka Belitung.

Sebagai pelengkap informasi, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung diketahui terbagi menjadi wilayah daratan dan wilayah laut dengan luas mencapai 81.725,23 km2, Luas daratan lebih kurang 16.424,23 km2 atau 20,1% dari total wilayah dan luas laut lebih kurang 65.301 km2 atau 79,9% dari luas total wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.(LH/other source)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *