Mengenal Apa Itu “Whip Pink” Tren Sensasi Ngefly Beresiko Kematian

  • Bagikan

BNN RI memasukannya sebagai salah satu ancaman narkoba jenis baru
•Lebih menyasar ke gen Z karena praktis, simpel dan tidak mengundang curiga

Pangkalpinang atensipublik.com – Tabung logam berwarna merah muda kini tak hanya akrab di dapur bakery atau meja barista. Produk yang dikenal dengan nama Whip Pink atau nangs, yang sejatinya digunakan untuk membuat whipped cream, belakangan ramai dibicarakan di media sosial karena disalahgunakan sebagai sarana mencari sensasi euforia, Sabtu 31 Januari 2026.

Bahkan seramnya lagi, dalam kasus kematian seorang selebgram Lula beberapa waktu yang lalu, pihak kepolisian pun menemukan selongsong tabung whip pink di TKP selebgram tersebut menghembuskan nafas terakhirnya.

Tren “whipping” atau menghirup gas dari tabung tersebut mencuat setelah dikaitkan dengan dugaan kematian seorang influencer muda. Fenomena ini menyoroti sisi gelap Nitrous Oxide (N₂O), gas yang selama ini dikenal legal dan digunakan di dunia medis serta industri pangan, namun berpotensi berbahaya jika digunakan di luar peruntukannya.

Apa Sebenarnya Isi Whip Pink?

Melansir laman resmi BPOM, whipe Pink berisi Nitrous Oxide (N₂O), gas tidak berwarna dan tidak berasa yang dalam industri pangan dikenal dengan kode E942. Secara legal, N₂O digunakan dalam beberapa bidang, antara lain:

•Medis, sebagai sedasi ringan dan analgesik dengan pengawasan ketat serta campuran oksigen untuk mencegah hipoksia

•Industri pangan, sebagai propelan aerosol dan pembentuk busa krim

•Otomotif, untuk meningkatkan performa mesin (NOS).

Masalah muncul ketika gas ini dihirup langsung tanpa oksigen pendamping, semata-mata untuk mengejar rasa “fly” atau euforia sesaat.

Secara farmakologis, N₂O bekerja cepat di sistem saraf pusat. Efek awalnya bisa berupa rasa ringan, rileks, hingga euforia. Namun di balik itu, terdapat risiko serius.

Saat dihirup, N₂O dapat menurunkan kadar oksigen dalam darah dan memicu hipoksia, kondisi ketika jaringan tubuh kekurangan oksigen. Efek inilah yang membuat pengguna merasa pusing atau melayang, padahal sesungguhnya sel-sel otak sedang mengalami stres berat.

Dalam jangka pendek, pengguna berisiko mengalami pingsan mendadak, gangguan pernapasan, hingga serangan jantung. Dalam jangka panjang, bahayanya jauh lebih senyap.

Salah satu dampak paling berbahaya dari penyalahgunaan N₂O adalah kemampuannya merusak Vitamin B12, nutrisi penting bagi sistem saraf. Tanpa B12, selubung pelindung saraf bisa rusak, menyebabkan neuropati.

Gejalanya sering dimulai dari kesemutan di ujung jari, mati rasa, gangguan keseimbangan, hingga kelumpuhan permanen. Kerusakan ini tidak selalu bisa dipulihkan, bahkan dengan suplementasi B12 sekalipun.

Tren ini diperparah oleh media sosial. Banyak konten menampilkan penggunaan Whip Pink sebagai aktivitas seru dan “aman”, tanpa penjelasan soal dampak kesehatan jangka panjang. Minimnya literasi kesehatan membuat risiko tersebut terasa sepele, padahal konsekuensinya bisa fatal. (***)

cnbc

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *