•Target dan Realisasi perusahaan kurun 2021-2024 berdasarkan fakta sering meleset
•Sayangnya, pihak korporasi sewaktu dikonfirmasi, memilih untuk menahan komunikasi
Pangkalpinang atensipublik.com – Tewasnya tujuh pekerja tambang ilegal di kawasan eks tambang Pondi Pemali -notabene adalah IUP milik PT Timah- beberapa hari belakangan mendapatkan sorotan tajam dari publik. Pasalnya, dari database yang ada di redaksi menyimpulkan kinerja korporasi yang mengalami naik turun, sementara disaat yang sama, deposit di IUP seringkali dicolong oleh aktifitas ilegal, Kamis 5 Februari 2026.

Faktor pengawasan ditengarai jadi “faktor koentji” yang seyogianya harus lebih intens dilakukan. Selain tentunya memakai pendekatan holistik berupa turunnya tim gabungan, teknologi digital dan pendekatan sosio-ekonomi. Unsur penindakan tegas bagi para pelaku penambangan ilegal, penampung hasil aktifitas ilegal serta oknum yang membekingi jadi sumbangsih krusial yang tak jarang luput dilakukan.
Dilansir Indopremier, disebutkan bahwa PT Timah Tbk (TINS) menargetkan produksi timah sebesar 30.094 ton dalam Rencana Kerja Anggaran dan Biaya ( RKAB ) 2025.
Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM Tri Winarno memaparkan, pada tahun 2021 PT Timah menetapkan RKAB sebesar 47.287 ton, dengan realisasi produksi bijih mencapai 24.670 ton dan realisasi produksi logam sebesar 26.465 ton.
Selanjutnya, pada tahun 2022, RKAB ditetapkan sebesar 45.000 ton, dengan realisasi produksi bijih sebesar 20.079 ton dan realisasi logam 19.825 ton.
“Kemudian tahun 2022 itu RKAB 45.000, kemudian realisasi produksi bijih adalah sebesar 20.079, dan realisasi produksi logam sebesar 19.825,” kata Tri saat Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, dikutip Rabu 11 November tahun lalu.
Memasuki 2023, rencana produksi PT Timah ditetapkan sebesar 29.000 ton, namun realisasi produksi bijih hanya 14.855 ton, dan realisasi logam 15.340 ton.
Kemudian pada tahun 2024, RKAB mencapai 37.000 ton, dengan realisasi produksi bijih sebesar 19.437 ton dan realisasi logam 18.915 ton.
“Dan di tahun 2025 ini diharapkan rencana RKAB 30.094, kemudian realisasi produksi bijih 19.210, dan realisasi produksi logam adalah 13.010,” katanya.
Sampai dengan September 2025, dikutip press release TINS, korporasi mencatat produksi bijih timah sebesar 12.197 ton Sn atau turun 20% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 15.201 ton Sn.
“Beberapa faktor penyebab terjadi penurunan produksi bijih timah diantaranya terdampak cuaca angin utara dan angin tenggara, kondisi cadangan tidak menerus (spotted), dan masih terjadinya aktivitas penambangan ilegal,” kata press release tadi.
Sementara yang lainnya adalah, perkiraan harga logam timah global di tahun 2026 dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya peningkatan penggunaan elektronik, semikonduktor, chips serta digitalisasi dan Artificial Intellegence (AI).
Terpisah, Kabid Humas/Komunikasi Perusahaan PT Timah Tbk, Anggi Siahaan belum merespons konfirmasi media terkait aktifitas ilegal yang disinyalir akan berpengaruh pada kinerja perusahaan menyoal target produksi dan akan terus diupayakan agar berita berimbang.(LH/other source).












