KOLOM OPINI
Pangkalpinang atensipublik.com – Belakangan ini –apalagi sejak maraknya media sosial tiktok dalam hape android. Situs media online secara berangsur-angsur melakukan penyesuaian dalam konteks penerapan judul yang punya nilai klik bagi hitter yang tinggi. Terlebih pada kategori berita yang sedang menjadi perhatian publik. Kasus dugaan korupsi yang membelit sosok Eks Jampidsus misalnya, Kamis 30 Juli 2026.
“KPK : Eks Jampidsus Sudah Pakai Rompi Tahanan”. “Kronologi Kasus Bekas Jampidsus Febrie Andriansyah”. “Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Termasuk Kasus Mega Korupsi”. demikian beberapa contoh judul-judul artikel yang menggunakan umpan klik (click bait) dalam pemilihan judul berita.
Dilansir dari laman internet, Jurnalisme umpan klik adalah jurnalistik yang mengedepankan judul berita untuk menimbulkan rasa penasaran dan keingintahuan pembaca sehingga mengklik link judul berita tersebut.
Umumnya, saat link judul berita itu diklik, isinya tidak sesuai dengan perkiraan. Saat saya coba Googling dengan kata kunci “umpan klik”, yang muncul di halaman depan Google mayoritas tentang “umpan pancing ikan”.
Umpan klik dalam konteks jurnalistik atau media, di halaman depan Google hanya ada Wikipedia, lalu di halaman kedua ada tulisan ini.
“Umpan klik (clickbait) adalah suatu istilah peyoratif yang merujuk kepada konten web yang ditujukan untuk mendapatkan penghasilan iklan daring, terutama dengan mengorbankan kualitas atau akurasi, dengan bergantung kepada tajuk sensasional atau gambar mini yang menarik mata guna mengundang klik-tayang (click-through) dan mendorong penerusan bahan tersebut melalui jejaring sosial daring,” tulis Wikipedia.
Disebutkan, tajuk umpan klik umumnya bertujuan untuk mengeksploitasi “kesenjangan keingintahuan” (curiosity gap) dengan hanya memberi informasi yang cukup membuat pembaca penasaran ingin tahu, tetapi tidak cukup untuk memenuhi rasa ingin tahu tersebut tanpa mengklik pada tautan atau pranala yang diberikan.
Masalahnya adalah, laku kerasnya judul artikel media online menggunakan umpan klik tersebut, cenderung diperkuat dengan masih minimnya tingkat literasi soal media massa oleh sebagian besar pengguna internet di tanah air.
Selain menimpa kalangan awam, jejaring umpan klik ini ditengarai juga menyergap benak para praktisi media daring –dengan ciri utamanya adalah yang bersangkutan tidak hobi membaca buku. Kalaupun membaca, hanya sekedar belasan hingga puluhan paragraf saja perhari untuk asupan otaknya. Sangat minim jika kita memang berada dalam lingkup bisnis media. Sedihnya lagi justru menjadi tawanan platform media sosial tiktok, berupa video pendek.
Sebab lainnya adalah, membaca bukan lagi sekadar aktivitas biasa, membaca adalah memasuki sebuah pengalaman. Hal itu membutuhkan fokus, kesabaran, dan pemikiran.
Membaca melatih konsentrasi, memperluas kosakata, serta merangsang pemikiran kritis dan imajinasi secara aktif. Sebaliknya, video pendek sering kali membuat otak pasif dan memperpendek rentang fokus. Bertendensi punya masalah dengan asupan dopamin di otak yang secara simultan diproduksi ketika sedang menyaksikan tayangan video-video pendek model sosmed tiktok.
Jadi, Jurnalisme Umpan Klik bukan jurnalisme yang baik. Ia jurnalisme baru era media online. Bahkan sebagian teman pernah berkelakar sebagai mazhab baru dalam jurnalisme. Wartawan atau media online berusaha bertahan hidup dengan “terpaksa” melabrak kaidah dan tujuan utama jurnalistik.
Dulu, di era media cetak, wartawan menulis berita untuk dibaca. Kini, di era internet (media online), wartawan menulis berita –punya niat terselubung– “untuk diklik”. Agar beritanya diklik, dibuka, dan dibaca, wartawan menulis judul berita dengan menyembunyikan inti berita.
“Ini Fakta Baru….”
“Begini Komentar….”
“Pemain Ini Dukung ….”
“Wow! Terungkap, Ternyata…. “
Itu sekadar contoh. Fenomena penulisan judul berita umpan klik seperti itu menjadikan cara membuat judul berita begitu mudah. Karena mudah, maka “derajatnya” pun jadi rendah.
Jurnalisme Umpan Klik memandang pembaca sebagai ikan yang harus dipancing, sebagaimana ilustrasi gambar di atas. Jika sudah memakan umpan klik tadi, maka soal in depth stories, akurasi jadi tersingkir ke nomor sekian.
Demikian ulasan ringkas tentang pengertian jurnalisme umpan klik yang menggejala di era internet akhir-akhir ini. Adapun artikel ini tidak bermaksud menggurui apalagi menuding anda sekalian, hanya sekedar berbagi informasi saja dalam kemasan artikel opini publik.
Sekian.(LH)












