AtensiPublik Com – Tanggamus .Di balik hamparan alam yang subur dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada hasil bumi, tersimpan luka lama yang tak kunjung sembuh. Jembatan penghubung antara Dusun Tanjung Jaya, Pekon Banjarmanis, menuju Dusun Tanjung Harapan, Pekon Tanjung Betuah, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus, hingga kini masih menjadi impian yang belum terwujud.Rabu 5Mei2026.
Jembatan itu bukan sekadar lintasan biasa. Ia adalah urat nadi kehidupan—penghubung anak-anak menuju pendidikan, petani menuju harapan, dan masyarakat menuju masa depan yang lebih baik. Namun ironisnya, selama puluhan tahun, jembatan tersebut belum pernah tersentuh pembangunan.
Saat musim hujan tiba, penderitaan itu mencapai puncaknya. Debit air sungai yang meningkat membuat akses tersebut lumpuh total. Anak-anak yang hendak menimba ilmu di SD Negeri Tanjung Betuah, hingga melanjutkan ke jenjang SMP, SMA, bahkan SMK, terpaksa mengurungkan niat. Jalan tanah yang licin dan berlumpur memperparah keadaan, seakan menjadi penghalang nyata bagi masa depan generasi muda.
“Kalau banjir, tidak bisa lewat sama sekali. Anak-anak tidak bisa sekolah, warga juga tidak bisa membawa hasil bumi,” ungkap Kurdi, salah satu narasumber, dengan nada lirih yang sarat keprihatinan.
Lebih dari sekadar akses pendidikan, jalur ini juga menjadi satu-satunya penghubung bagi petani dalam mengangkut hasil panen mereka. Kopi, hasil kebun, dan komoditas lainnya yang menjadi sumber penghidupan masyarakat seringkali terhambat distribusinya. Ketika akses terputus, ekonomi pun ikut tercekik.
Kondisi ini seolah menjadi potret nyata ketimpangan pembangunan di pelosok negeri. Di saat wilayah lain melaju dengan infrastruktur modern, masyarakat di dua dusun ini masih berjibaku dengan jalan tanah dan jembatan yang tak kunjung hadir.
Harapan masyarakat sederhana—mereka tidak meminta kemewahan, hanya sebuah jembatan yang kokoh dan jalan yang layak. Sebuah akses yang mampu menghubungkan mereka dengan pendidikan, ekonomi, dan kehidupan yang lebih manusiawi.
Kini, suara-suara itu kembali menggema. Dari tepian sungai yang sunyi, dari langkah kaki anak-anak yang terhenti, hingga dari jeritan petani yang terhambat, semuanya mengarah pada satu harapan: hadirnya perhatian dan tindakan nyata dari pemerintah.
Sebab, di balik jembatan yang belum dibangun itu, ada masa depan yang terus menunggu untuk diselamatkan.












