Pangkalpinang atensipublik.com – Strategi penguatan rekrutmen dan reaktivasi peserta Universal Health Coverage (UHC) di Pangkalpinang difokuskan pada sinergi intensif antara BPJS Kesehatan, pemerintah daerah, dan pihak ketiga untuk mencapai UHC berkualitas, Senin 11 Mei 2026.
Fokus utama dari target yang dituju adalah perluasan kepesertaan aktif, reaktivasi peserta non-aktif, serta optimalisasi program Pesiar (Peta Sisir) dan donasi melalui Forum Komunikasi.
Sementara itu, dalam acara Forum Komunikasi Terkait Implementasi Strategi Penguatan Rekrutmen dan Reaktivasi Peserta UHC Pangkalpinang yang digelar di Ruang SRC Gedung Tudung Saji Komplek Perkantoran Pemkot Pangkalpinang, dibahas beberapa poin penting terkait distribusi peserta dan tingkat keaktifan, Strategi Keuangan dan Optimalisasi Program, serta capaian program JKM Nasional dan di daerah.
Acara yang turut dihadiri oleh Walikota Pangkalpinang Prof.Saparudin Masyarif, Phd, Wakil Walikota Pangkalpinang Dessy Ayutrisna, SE, Sekda Pangkalpinang, Mie Go, Kadis PUPR Agus, Kepala Bakueda Yassin, Kadis DLH Suharto serta perwakilan BPJS dan Bank Sumsel Babel dan diawali dengan paparan serta capaian program.
Dalam pemaparannya, disebutkan bahwa capaian dan tantangan dalam pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Masyarakat (JKM) di Indonesia, khususnya di Kota Pangkalpinang. Dilaporkan bahwa 98,85% penduduk nasional telah menjadi peserta JKM, dengan Kota Pangkalpinang mencatat tingkat kepesertaan 99,76% atau 246.000 jiwa dari total 247.000 penduduk.
“Tingkat keaktifan peserta di kota ini juga melampaui rata-rata nasional, yaitu 82,36% dibandingkan 80%. Namun, terdapat segmen dengan tingkat keaktifan rendah, seperti BBMYD di angka 57,99%. Tren keaktifan peserta meningkat 7% dari tahun sebelumnya,” ujar Plt Kadinkes dr.Widya.

Diskusi juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan finansial melalui optimalisasi pengumpulan iuran, risk pooling, dan efisiensi pembelian layanan kesehatan, serta perlunya peningkatan kepesertaan aktif di kelas 1 dan 2 untuk mencapai keseimbangan biaya dan premi.
Untuk Tren keaktifan peserta, kata Kadinkes, meningkat dari 75,47% tahun lalu menjadi 82,36% tahun ini, atau naik sekitar 7%. Tiga pilar utama program adalah, pengumpulan iuran, risk pooling, dan efisiensi pembelian layanan kesehatan. Risk pooling diharapkan dapat menjaga distribusi risiko antara peserta sehat dan sakit. “Analisis biaya menunjukkan cost per member lebih tinggi dari premi per member di Pangkalpinang, menandakan perlunya optimalisasi,” imbuhnya.
Segmen B2PM menunjukkan keaktifan tertinggi (97,55%), lanjutnya, sedangkan BBMYD terendah (57,99%). Telah dilaporkan belanja kesehatan secara nasional sebesar Rp190,3 triliun didukung oleh 23.770 fasilitas kesehatan utama dan 3.154 fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia.
“Sebanyak 25 provinsi dan 338 kabupaten/kota telah berstatus UAJ Prioritas. Total kepesertaan JKM mencapai 284,99 juta jiwa atau 98,85% penduduk nasional,” ungkapnya.
Sementara ketika membahas peningkatan keaktifan peserta di segmen dengan tingkat partisipasi rendah, Kadinkes menyebut, peran optimalisasi kepesertaan aktif di kelas 1 dan 2 untuk memperbaiki keseimbangan biaya dan premi.
“Diharapkan agar terus memperkuat kolaborasi lintas pemerintah daerah untuk mempertahankan capaian tinggi. Monitoring dan evaluasi rutin juga diperlukan untuk memastikan keberlanjutan program JKM,” tandasnya.(lukmanhakim)












