Pangkalpinang atensipublik.com – Memiliki jenjang kepangkatan Jenderal bagi seorang prajurit TNI bisa dinilai memikul tanggung jawab besar terhadap prajurit atau kesatuan yang dipimpinnya. Karena itu seorang jenderal dituntut memiliki sikap tegas dan lugas, Selasa 7 Juli 2026.
Di sisi lain, ada pula sosok jenderal yang selain punya sikap lugas dan tegas tadi, dibaliknya memiliki sikap sederhana dan rendah hati. Sifat ini yang membuat beberapa jenderal dihormati dan disayangi oleh para prajuritnya. Berikut ini adalah sekelumit pengalaman media atensipublik tatkala sowan ke sosok jenderal TNI yang bersahaja dan rendah hati.
“Mari silahkan duduk mas, oh iya darimana ini? Yah beginilah mas keseharian kita semua di kantor sederhana ini,” ucap Brigadir Jenderal TNI Nur Wahyudi, S.E., M.H., M.I.Pol saat menyambut kami rombongan media yang datang berkunjung di ruangan sejuk Markas Korem 045 Garuda Jaya Selasa siang.
Kesan pertama begitu bersahaja, begitu pepatah berkata. Dan kesan ini terus menerus timbul tenggelam dalam balutan cerita serta pengalaman yang dikisahkan dalam pertemuan sepanjang ± 45 menit tersebut.
“Saya lulus Akmil Tahun 2001, sesudah itu bertuga di Grup 1 Kopassus Serang Banten yah, terus balik lagi jadi Dandim di Lebak,” tuturnya menceritakan profile Perwira Bintang Satu yang sempat jadi Inspektur Upacara dalam Perayaan Detik-detik Proklamasi di Istana Negara medio Agustus 2024.
Bukan itu saja, di kesempatan yang hangat tadi, Jenderal yang pernah mengenyam pengalaman sebagai Dansatgas Unifil Lebanon tahun 2019 serta Dansat 81 Kopassus Maret tahun 2024 tersebut diluar dugaan bersedia menceritakan secarik kisah seru soal serunya saat menjadi anggota Satgas Muhibah dan terlibat dalam pembebasan sandera KMV Sinar Kudus oleh kawanan perompak Somalia di Perairan Laut Somalia.
“Jadi waktu itu, saat saya bertugas sebagai perwira intel untuk database dari Komandan -saat itu- Letjen TNI (Purn.) Lodewijk Freidrich Paulus. Bisa data dari satelite juga atau data para perompak yang ketika itu berkekuatan dua kapal cepat jenis boat. Sementara dari TNI setelah singgah di Srilanka, berangkatlah KRI Abdul Halim Perdanakusuma dan KRI Yos Sudarso,” kata Nur Wahyudi memulai pengalaman yang sempat jadi sorotan media nasional kurun waktu 2011 yang lampau.
Setelah tim bergerak, dan berhasil mendapatkan kesepakatan awal soal keselamatan tawanan, maka para perompak kembali berulah dengan kembali mengerahkan kapal boat kedua untuk balik menawan MV Sinar Kudus. “Ya akhirnya karena mereka membandel kapal boat tadi terpaksa diambil tindakan tegas oleh tim,” bebernya pada peristiwa yang dimulai 16 Maret 2011 berakhir di 1 Mei 2011 tersebut.
Ketika disinggung soal kesan- kesannya terhadap negeri Serumpun Sebalai. Nur Wahyudi menyatakan kekagumannya pada tingginya sifat toleransi antar warga di Bangka Belitung. Selain perayaan Hari Raya Idul Fitri, lanjut Nur Wahyudi, ternyata perayaan Imlek pun ternyata tak kalah meriahnya.
“Terus terang salut saya dengan keharmonisan warga yang ada disini,” ucapnya kagum.
Acara anjangsana pada Brigadir Jenderal TNI Nur Wahyudi, S.E., M.H., M.I.Pol, kemudian ditutup dengan acara sesi photo bersama. Dengan meninggalkan kesan mendalam tentang pribadi bersahaja Komandan Korem 045 Garuda Jaya. (Lukman Hakim).







