Perang Teluk Jilid II Pecah, US-Israel Serang Kedaulatan Iran 

  • Bagikan

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khameini Dikabarkan Wafat 

•Eskalasi Pertempuran Diperkirakan Akan Meluas dan Dunia Terancam WWIII

Pangkalpinang atensipublik.com – Dua biang kerok kisruh keseimbangan geopolitik di kawasan Timur tengah, Amerika Serikat dan Israel per Sabtu 28 Februari malam kemarin diketahui telah menyerang Iran via serangan udara presisi dan masif, Minggu 1 Maret 2026.

Dalam kanal berita Iran spectator disebutkan, bahwa serangan udara pesawat-pesawat pembom jenis F-35 dan F-22 US-Israel telah menghujani pusat komando serta instalasi militer Iran.

Di Minggu 1 Maret pagi tadi, kantor berita Iran merilis berita duka berupa wafatnya pemimpin tertinggi spiritual Iran Ayatollah Khameini.

Dengan begitu, maka kawasan Timur tengah dipastikan akan bergejolak lebih dari sekedar perang kawasan. Bahkan beberapa pengamat mengkhawatirkan pecahnya perang dunia ketiga. Jika saja para sekondan negeri mullah tersebut ikut campur dalam eskalasi konflik bersenjata.

Sebelumnya, Presiden Russia Vladimir Putin secara resmi telah mengutuk serangan barbar dan melanggar kedaulatan sebuah negara tersebut melalui kementerian luar negeri Rusia.

“Serangan ini membuat shocked dan menunjukkan ketidakpekaan suasana bathin umat islam dalam bulan suci ramadhan,” terang Dino Patti Djalal melalui video yang diunggah dalam platform sosial media X.

Ada tiga poin penting yang disampaikan oleh Former Ambassador US tersebut. Pertama adalah, perlu dicatat bahwa ini akan menjadi konflik yang berkepanjangan. Karena tujuan dari serangan ini bukan hanya menghentikan dari kapasitas nuklir Iran.

“Tapi untuk menumbangkan pemerintahan di Iran. Segala aksi militer, mobilisasi massa, upaya agen mossad serta instrumen sosial ekonomi akan dikerahkan untuk menumbangkan pemerintahan di Iran,” terangnya.

Dan tentunya, sambung Dino, pemerintah Iran akan melawan dengan segala cara dari intervensi militer ini. “Berbeda dari Venezuela, kapasitas Iran yang mempunyai jaringan militer dan politik di kawasan, perang ini diprediksi akan turut menyeret dan mengguncang stabilitas kawasan Timur tengah,” paparnya lagi.

Kedua adalah, dalam konteks ini harus dilihat sejelas-jelasnya bahwa Iran adalah sebagai pihak yang diserang.” Dan bahwa negosiasi antara Amerika dan Iran yang belum berhasil ini bukan sebagai pembenaran bagi Amerika dan Israel untuk menyerang Iran,” tegasnya.

Kemudian yang ketiga, mantan diplomat kawakan ini menyoroti tentang beredarnya pengumuman dari Kementerian Luar Negeri Indonesia yang menyatakan bahwa Presiden Prabowo bersedia menjadi negosiator dalam konflik berskala luas tersebut.

“Sepengalaman saya sebagai diplomat, jarang sekali pihak paman Sam mau ditengahi dalam sebuah operasi militer terhadap musuhnya. Hal ini terjadi akibat dari ego sebagai negara superpower dalam situasi konflik dan seharusnya informasi sensitif seperti ini disaring terlebih dahulu sebelum diumumkan,” pungkasnya. (LH).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *