•Sumber : “Saya Dengar : Aah urusan sama media gampang itu”
PANGKALPINANG atensipublik.com – Narasumber memilih bungkam atau tidak menjawab ketika dikonfirmasi umumnya disebabkan oleh upaya melindungi diri dari risiko hukum, tekanan sosial politik, atau belum matangnya data dan strategi komunikasi yang mereka miliki, dan parahnya lagi adalah menganggap enteng media sebagai pihak yang mencari keuntungan semata, Rabu 12 Agustus 2026.
Kendati demikian, dalam pengalaman mewawancarai narasumber masih ada pribadi yang notabene mencoba bertahan dengan sifat bungkam pada media dan parahnya lagi menganggap enteng peran media sebagai the most powerful entity on earth right now atau bahasa gamblangnya sebagai entitas paling kuat di dunia saat ini.
“Infonya didalam SPPG itu sendiri sudah ramai dan heboh, mereka seperti saling lempar tanggung jawab. Tapi ada mendengar kalau Ibu Rince itu omong aah gampang kalau urusan dengan media,” ungkap sumber internal media di salah satu SPPG di Pangkalpinang.
Asal tahu saja, sebelumnya beberapa hari yang lalu media mengungkap dugaan praktek mismanajemen serta penyajian menu makanan basi di SD 48 hingga informasi mengenai adanya anak usia balita yang muntah-muntah pasca menyantap sajian MBG di Pangkalbalam Pangkalpinang.
“Ini soal para stafnya yang tidak benar. Makanan basi terus tidak ada respon dari staf kalau relawannya bilang sudah bau itu ayam malah tidak direspon dan tahu-tahu saat pagi harinya justru makanan itulah yang dibagikan setiap hari seperti itu masalahnya,” ungkap sumber redaksi yang demi keamanan dirinya terpaksa dibuat anonim.
“Cuma sering makanan basi. Pernah kejadian sekitar 2 bulan yang lalu, dan di penerima manfaat 3 B (Bumil-Busui /ibu menyusui-Balita) kelurahan Ketapang, anak balita muntah pas lagi makan. Kejadian ini selama lima bulan berjalan baru satu kejadian di penerima manfaat 3 B Ketapang,” ungkap sumber kedua yang dikonfirmasi wartawan.
Sepanjang pengamatan media, dalam kasus-kasus keracunan diduga disebabkan oleh MBG, banyak terjadi karena faktor lalai dalam finishing product. Alias tidak dilewatinya tahapan Quality Control sebagai filtering dari makanan saji yang rentan basi. Kondisi demikian pun dibenarkan oleh sumber tertutup kami.
“Ade dulu tu anak keracunan muntah-muntah anaknya, gara-gara makan MBG dari mereka ini jadi orang tua anak itu mendatangi untuk protes ke SPPG terus disogok kek YL pakai duit biar tidak viral,” ungkap sumber tertutup redaksi.
Jika informasi ini valid, maka dalam kesempatan ini media meminta pada Bapak Presiden Prabowo agar segera membenahi permasalahan ketidakbecusan pengurus SPPG di sebuah yayasan yang dikomandoi oleh Ibu Rince tadi. Menimbang, akibat dugaan mismanajemen, macetnya quality control serta tidak welcome dengan pers sajalah yang justru membuat faktor pembenahan jadi benang kusut yang sukar diuraikan. Terpenting bisa menggerus elektabilitas program unggulan Presiden.
“SPPG mana? Oh iya kenapa itu bro? Oh iya sudah nanti akan jadi atensi bagi kami,” sebut sumber internal terpercaya di Kejati Bangka Belitung pada Selasa 11 Agustus malam.
Sebagai penutup, publik pun perlu diingatkan, bahwa seringkali ditemukan, ketika niat baik seorang Presiden RI justru berubah menjadi bola panas yang menerjang Kabinet Merah Putih di Istana. Salah satu sebabnya adalah, banyak pejabat SPPG di daerah yang seolah-olah merasa seperti raja, kebal hukum dan bertindak arogan atas nama program MBG.
“Datanya sudah ada di kami, nanti kami beri tahu,” pungkas sumber di Kejaksaan tadi. (Redaksi)











