“Wala taqrabu zina” (وَوَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ) “Dan janganlah kamu mendekati zina” QS Al Isra – 32
Pangkalpinang – Senja (bukan nama sebenarnya), perempuan berusia 28 tahun itu, banyak menghela nafas saat menceritakan perjalanan hidupnya. Di balik senyum yang sesekali ia tunjukkan, tersimpan kisah panjang tentang luka, hutang yang dipaksakan, dan harapan yang belum padam, Kamis 15 Oktober 2026.
“Awalnya saya memang mau cari kerja, kerja apa aja gitu, terus ada teman yang nawarin kerja di kafe-kafe di Pangkalpinang, ya udah saya akhirnya berangkat kesini,” tutur Senja, ibu empat orang anak -sekaligus perempuan malang- yang terjebak dalam dunia prostitusi di Parit enam Pangkalpinang.
Awalnya Coba-coba Akhirnya Ketagihan
Senja menuturkan, sejak dirinya bekerja sebagai wanita penghibur di kafe Ross, awalnya sama sekali tidak mengetahui betapa dunia narkoba begitu kuat mencengkeram kawasan Parit enam. Namun, menurut Senja, pengaruh doktrin jahat sang Mami De* (29 tahun) lah yang akhirnya membuat Ia terjerumus dunia halusinasi tak berkesudahan tersebut.
“Kalau anak baru memang tidak disuruh sama Mami De*, tapi biasanya setelah kurang lebih seminggu bekerja disana, ya akibat pergaulan sesama pekerja akhirnya ya jadi kebiasaan bang. Sebelum kerja kami biasa konsumsi (narkoba) dulu, baru kami melayani tamu,” ucapnya lirih.
Ketika disinggung dari mana Mami menyediakan stok narkoba di kafenya, Senja katakan bahwa barang haram tadi kadang sudah tersedia di tangan Mami, “Kadang kami juga ambil diluar bang,” aku Senja.
Senja akui, sepanjang setahun setengah dirinya berkubang dalam lumpur kemaksiatan di parit enam, Ia bersama beberapa temannya sempat juga dicokok petugas BNNK Pangkalpinang.
“Pernah saya ditangkap sama BNNK Pangkalpinang, terus akhirnya bisa selesai tapi saya berhutang sekitar 25 juta bagi dua sama Mami,” ucap Senja.
Selain Masalah “Narkoba Addict” Jeratan Hutang Jadi Tali Kekang Para PSK
Senja bilang, dirinya bukan tidak mau keluar dari kubangan dosa, yang berada di titik paling rendah peradaban manusia tersebut. Tapi, kata Senja, Mami punya sejuta cara untuk mengikat anak buahnya. Salah satunya dengan jeratan hutang majemuk. Bahkan, aku Senja, Ia punya rekor hutang sebesar 28 juta rupiah.
“Waktu saya berangkat saja, saya sudah berhutang sebesar 7 juta rupiah. Tidak tahu untuk apa saja, ditambah lagi biaya hidup sehari-hari di kost dan kafe kan tinggi. (Maaf) Misal saya dalam semalam dapat empat orang pelanggan (pengakuan Senja tamu dipatok tarif 200 ribu), kami dapat setengahnya, terus dipotong duit konsumsi narkoba tadi, kadang dari satu orang tamu kami cuma pegang lima puluh ribu aja bang,” bebernya seraya matanya berkaca-kaca menahan isak tangis.
Bukan Cuma Senja, Kakak Kandungnya Pun Terjerat di Kubangan Yang Sama
Kisah terjeratnya anak manusia di profesi yang konon tertua di dunia ini, bukan saja mampu mengharu-biru perasaan kita sebagai manusia. Yang paling penting dari itu semua adalah, mirisnya kisah selanjutnya yang diceritakan oleh Senja.
“Saudara saya masih terpaksa kerja disana bang, kalau nelpon hubungi saya selalu nangis karena tidak mampu membayar hutangnya yang tiap saat selalu bertambah jumlahnya. Sedih saya kalau ingat dua anaknya yang bertanya terus soal ibunya bang,” tutupnya.
Sampai berita ini tayang redaksi masih berupaya melakukan konfirmasi pada sang Mami serta pihak berwenang lainnya, seperti Pemkot Pangkalpinang, Satpol PP, Polresta Pangkalpinang, dan BNNK Pangkalpinang namun terhalang durasi waktu tayang berita dan jadwal konfirmasi. Namun demikian, akan terus diupayakan agar berita bisa berimbang. (Red/LH)
Gambar ilustrasi

