Beware Guys, Bocil Anda Sering Tantrum? Ahli Bilang Akibat Keseringan Nonton Video Pendek

  • Bagikan
Gambar adalah ilustrasi gemini AI

Penelitian tentang pola konsumsi informasi digital dilakukan lintas negara

•Kesehatan Mental anak lebih penting dari sekedar menjejalkan kuota 

Pangkalpinang atensipublik.com – Sudah dua bulan belakangan ini, Amir -bukan nama sebenarnya, bocah usia awal akil baligh sering tantrum tidak jelas di rumah, yang pada akhirnya sukses menerbitkan kekhawatiran bagi kedua orangtuanya. Selain tantrum, Amir disebutkan seringkali kesulitan mengelola emosinya sendiri, Minggu 5 April 2026.

Sementara itu, kedua orangtuanya -serta sebagian besar orangtua lainnya di belahan dunia ini, tak jarang alami gejala misconception pula, hingga pada akhirnya gejala tantrum yang sporadis diderita hampir sebagian besar abege saat ini justru makin parah.

Dari narasi yang berhasil disusun oleh redaksi, penyebab anak sering mengalami ketidakstabilan emosi, sukar mengendalikan emosi sampai bahkan berujung pada emosi yang meledak-ledak salah satunya disebabkan dari pola konsumsi informasi lewat tayangan video pendek di beragam sosmed yang sedang menjamur belakangan ini.

Tak ada yang salah dalam era artificial intelligence seperti sekarang. Namun begitu, ketika sistem otak manusia menerima pola informasi yang hanya menyajikan potensi viral belaka, sudah jelas kesehatan mental anak jadi taruhannya.

Pada studi yang melibatkan 1.052 anak SD di Cina (2024) mengungkap bahwa paparan video pendek merupakan bentuk kesenangan instan yang bisa membuat anak kesulitan mengelola emosi dan mengurangi fokus mereka.

Akibatnya, anak menjadi lebih gelisah, impulsif, gampang marah, dan sering tantrum. Hal ini disebabkan fungsi eksekutif pada otak anak terganggu.

Fungsi eksekutif adalah kemampuan kognitif yang berperan dalam mengontrol emosi, menunda kepuasan, mengalihkan perhatian, dan menyelesaikan tugas.

Fungsi eksekutif diproses terutama oleh lobus frontal (bagian terbesar di area depan otak) dan berkembang pesat di usia dini hingga remaja.

Dalam situs annual review, seorang penulis jurnal kesehatan, Adele Bellian menjelaskan bahwa fungsi kognitif memungkinkan seseorang untuk bermain-main dengan ide secara mental; meluangkan waktu untuk berpikir sebelum bertindak.

“Menghadapi tantangan baru yang tak terduga; menahan godaan; dan tetap fokus. FE inti meliputi inhibisi [inhibisi respons (pengendalian diri—menahan godaan dan menahan diri untuk tidak bertindak impulsif) dan kontrol interferensi (perhatian selektif dan inhibisi kognitif)], memori kerja, dan fleksibilitas kognitif (termasuk berpikir kreatif “di luar kotak,” melihat segala sesuatu dari berbagai perspektif, dan beradaptasi dengan cepat dan fleksibel terhadap perubahan keadaan),” tulisnya di tahun 2013 dengan kategori review in advance.

Bagaimana video pendek mengganggu fungsi otak?

Menurut teori persepsi adegan dan pemahaman peristiwa alias scene perception and event comprehension theory (SPECT), saat menyaksikan tayangan (baik di film atau video) otak kita bekerja seperti seorang editor.

Otak tidak hanya melihat gambar, tapi juga berusaha mengikuti alur, dan memahami cerita di baliknya lewat dua tahapan.

Pertama, membagi peristiwa ke dalam potongan-potongan yang bermakna (misalnya “anak mulai bermain”, “anak menangis”). Kedua, menghubungkan potongan itu menjadi cerita utuh yang bisa dipahami dan diingat.

Masalahnya, banyak video pendek yang viral di TikTok, reels Instagram, ataupun shorts Youtube (seperti Italian brain rot atau skibidi toilet) justru berpotensi mengganggu cara kerja alami otak dalam menelaah dan memahami sebuah cerita.

Penelitian dalam jurnal Frontiers in Human Neurosciences (2024) mengungkapkan bahwa semakin sering anak menonton video pendek, kemampuan fungsi eksekutifnya akan semakin menurun. Akibatnya, anak kian sulit mengelola emosi dan fokus.

Efek video pendek dalam mengganggu fungsi eksekutif anak dapat dipahami pula lewat pengaruh tayangan video kartun bertempo cepat di televisi.

Misalnya, studi (2022) mengungkap anak yang nonton SpongeBob SquarePants dalam sembilan menit, seketika mengalami penurunan fungsi eksekutif. Dampaknya, anak menjadi lebih impulsif, sulit berkonsentrasi, dan tidak bisa menyelesaikan tugas sederhana.

Berkaca dari kasus sering tantrumnya Amir tadi, tentunya sebagai orangtua harus menyikapinya secara bijak dan terpenting memiliki ilmu yang cukup dalam mencari jalan keluarnya.

Sebab, dalam era digital seperti sekarang, adalah hal yang mustahil untuk sama sekali menyetop paksa kebiasaan anak mencari informasi lewat konten video pendek di sosial media.

Poin paling penting dari artikel ini adalah, mengenal dulu penyebabnya. Bukankah dalam hukum kausalitas sering disebutkan ada sebab dan juga akibat? Jadi, mulailah sering-sering memberi tahu anak kita masing-masing supaya bisa mengerem -setidaknya mengurangi durasi menonton.

Dengan harapan tentunya, kedepan peristiwa tantrum ditingkahi perilaku kekerasan pada kakak-adik atau bahkan orangtua kandungnya sendiri, sedini mungkin bisa dicegah bahkan idealnya perilaku negatif ekses ‘reels addict’ tadi bisa musnah. (LH – berbagai sumber)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *